DAVIES
: AGAMA HARUS MERANGKUL SAINS
TULISAN INI
ADALAH KLIPING KORAN REPUBLIKA YANG TELAH SAYA SIMPAN DARI TAHUN 2006 BERSAMAAN
DENGAN CETAKAN PERTAMA DARI BUKU “MENCARI TUHAN DENGAN FISIKA BARU (PAUL
DAVIES)” ,UNTUK BERBAGI ILMU MAKA SAYA TULISKAN LAGI DI BLOG SAYA (RONNY
ARTHA).
Ilmu
memberi bukti,agama memberikan
interpretasi.
Ia
penulis buku fenomenal The Mind of God. Ia menyangsikan teori Teori Darwin.
Lewat riset kosmologinya , Profesor Paul
Davies justru membuktikan keberadaan Tuhan.
Davies hadir pada Olympiade Fisika
Internasional ke 37 (37th IPhO) di Singapura dua pekan lalu, dan
membuat hajatan besar itu terasa lebih “Religius”.
Davies
adalah peraih Templeton Prize (1995). Sebuah penghargaan yang sama
prestisiusnya dengan Nobel, namun secara khusus memfokuskan pada temuan-temuan
terkait realitas spiritual. Ini kali pertama IPhO mengundang pemenang Templeton
Prize.
Wartawan
Republika, Imam Yuniarto F,
mewawancarai Davies di kampus Nanyang Technolo- gical University (NTU),
Singapura, Jum’at 14 Juli lalu,usai Davies menyampaikan kuliah astrobiology
berjudul Was There Life in Mars di auditorium Jurusan Fisika NTU.
Pertanyaan sederhana. Anda percaya
Tuhan ?
Itu
bukan pertanyaan sederhana,ha ha……
Baik. Berbekal Fisika Baru (New
Physics) yang Anda kembangkan, apakah ada pembaruan dalam persfektif hubungan
Tuhan dengan alam semesta ? Agama dan sains ?
Akan
memakan waktu panjang menjelaskan persoalan tersebut. Namun perlu ditekankan
bahwa ide tentang alam semesta,penciptaan dan hukum-hukumnya, muncul kali
pertama dari tradisi agama. Namun dalam
perjalanannya sains dan agama kemudian berpisah, bahkan berseberangan. Banyak
contoh, Gilileo Galilei berkonflik dengan gereja. Charles Darwin menimbulkan
persoalan serius di dunia Kristen.
Memasuki
abad ke -20, sains berhasil menginvestigasi alam semesta secara luar biasa :
melacak asal muasal alam raya,mengungkap asal usul waktu. Padahal pada mulanya
ini adalah tema-tema yang diungkit para pemimpin agama, seperti penciptaan alam
semesta, juga akhir. Problem- problem fundamental ini, yang mulanya bagian dari
agama, lantas menjadi bagian sains. Keduanya lantas menjadi bagian konflik.
Namun, dalam kurun 30 tahun terakhir, para saintis mulai membicarakan kembali
tumpang tindih agama dan sains. Muncul dialog. Sebagian besar cukup
konstruktif. Hanya,amat kompleks.
Apakah ada titik temu ?
Yang
jelas,untuk mengikis kekompleksan masalah, perlu pengertian antara dua kutub.
Agama harus merangkul sains. Agama perlu berupaya memahami dan mengakui
temuan-temuan saintifik abad ke -20 dan ke -21. Bagaimana alam semesta bermula
atau asal usul kehidupan, misalnya. Sejauh pemimpin agama mau memahami apa yang
sains ingin capai, kekompleksan itu tidak dapat disingkirkan.
Agama seolah dalam posisi harus
mengerti ?
Jangan
keliru,agama memegang peran penting. Dalam konteks hubungan sains dan agama,
lebih tepat jika agama berkontribusi memberi interpretasi tentang alam semesta,
satu hal yang tak bisa dilakukan sains.
Maksud
memberi interpretasi adalah memberi makna terhadap alam semesta dan keberadaan
manusia,menjaga kehidupan manusia tetap pada tujuan awal. Semua agama, saya
pikir, mencoba menjaga nilai-nilai kemanusiaan dengan memposisikan manusia pada
tujuan penciptaannya.
Nah,
sains member kontribusi dengan menyodorkan bukti-bukti bahwa benar alam semesta
diciptakan dengan suatu tujuan. Riset saya selama ini memberi keyakinan soal
itu. Alam semesta ternyata sangat jenius. Kita tak melihat bahwa alam semesta
acak dan tidak koheren. Prinsip fundamental,fisika dan matematika,sangat jenius.
Semuanya mereflesikan sebuah gambar besar, sebuah tujuan tertentu.
Saya
tidak mengomentari ini berdasarkan satu ajaran agama tertentu. Saya mendasarkan
seluruhnya pada hasil-hasil riset ilmiah saya. Lihat. Betapa indahnya seluruh
alam semesta raya tertata secara bersamaan,betapa elegan dan jeniusnya. Anda
lihat saya sangat terkesan terhadap sains. Dan lewat sainslah saya memahami
bahwa kita memiliki tujuan disini.
Jadi Anda percaya Tuhan ? Bukankah sains membuktikan keberadaan Tuhan ?
Bagi
saya Tuhan adalah Sesuatu yang Sangat Abstrak, sesuatu yang Abadi (Timeless),
sesuatu yang bisa saya katakan sebagai
Maha Besar (The Big). Ia adalah refleksi dari semua hukum fundamental di
alam. Namun, terus terang saya meyakini
Tuhan bukan dalam pengertian agama-agama yang lazim. Tuhan buat saya adalah
Diva dari ide-ide besar alam semesta. Ini istilah yang cukup kompleks dalam
bahasa Inggris. Mungkin anda bakal sulit menerjemahkannya ke bahasa Indonesia.
Dalam
buku saya,MIND OF GOD,saya jelaskan konsep saya tentang Tuhan. Namun bukan
dalam pengertian Tuhannya orang Islam,Kristen atau Yahudi. Meski ada pula
elemen dari tiga agama besar ini, termasuk elemen dari Budha dan Hindu.
Ini
adalah konsep Tuhan yang boleh jadi tidak dipahami dan bahkan tidak
menenteramkan bagi kebanyakan orang. Namun Dia dapat dipahami dengan mengkaji
Keagungan-Nya lewat hukum fundamental alam.
Singkatnya, semua agama pada akhirnya memberi
pemahaman sangat mendalam tentang makna hidup ini. Sementara sains
berkontribusi untuk menyodorkan fakta soal semesta, meneguhkan tentang makna
hidup tersebut dan membuktikan bahwa ternyata memang benar.
Bisa Anda jelaskan, bagaimana alam semesta
berakhir ?
Paling
tidak ada empat kemungkinan. Pertama, alam semesta mengembang terus menerus,
kian besar, menjadi sangat dingin, dan sulit bagi kehidupan untuk bertahan. Kedua, alam semesta mengembang ke dalam
ukuran maksimal,lantas kolaps dan terjadilah Big Crunch yang memicu kehancuran.
Ketiga,
alam semesta terus mengembang. Dalam perjalanannya ia kehabisan energi.
Termasuk peradaban di Bumi yang kian sulit mengeksploitasi sumber-sumber energy,
sehingga kolaps.
Keempat,alam
semesta mengembang kian cepat dari waktu ke waktu, dan ketika mencapai angka
maksimumnya terjadilah Big Crunch. Ini
adalah kemungkinan terbaru. Namun kita tak perlu khawatir. Dalam
hitungan-hitungan kami, diperlukan waktu triliuanan tahun hingga semua terjadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar