Minggu, 13 Januari 2019

Agama Merangkul Sains (Paul Davies)


DAVIES : AGAMA HARUS MERANGKUL  SAINS


TULISAN INI ADALAH KLIPING KORAN REPUBLIKA YANG TELAH SAYA SIMPAN DARI TAHUN 2006 BERSAMAAN DENGAN CETAKAN  PERTAMA DARI BUKU “MENCARI TUHAN DENGAN FISIKA BARU (PAUL DAVIES)” ,UNTUK BERBAGI ILMU MAKA SAYA TULISKAN LAGI DI BLOG SAYA (RONNY ARTHA).

Ilmu memberi  bukti,agama memberikan interpretasi.

Ia penulis buku fenomenal The Mind of God. Ia menyangsikan teori Teori Darwin. Lewat riset  kosmologinya , Profesor Paul Davies justru membuktikan keberadaan Tuhan. 

Davies hadir pada Olympiade Fisika Internasional ke 37 (37th IPhO) di Singapura dua pekan lalu, dan membuat hajatan besar itu terasa lebih “Religius”.

Davies adalah peraih Templeton Prize (1995). Sebuah penghargaan yang sama prestisiusnya dengan Nobel, namun secara khusus memfokuskan pada temuan-temuan terkait realitas spiritual. Ini kali pertama IPhO mengundang pemenang Templeton Prize.

Wartawan Republika, Imam Yuniarto F, mewawancarai Davies di kampus Nanyang Technolo- gical University (NTU), Singapura, Jum’at 14 Juli lalu,usai Davies menyampaikan kuliah astrobiology berjudul Was There Life in Mars di auditorium Jurusan Fisika NTU.

Pertanyaan sederhana. Anda percaya Tuhan ?
Itu bukan pertanyaan sederhana,ha ha……

Baik. Berbekal Fisika Baru (New Physics) yang Anda kembangkan, apakah ada pembaruan dalam persfektif hubungan Tuhan dengan alam semesta ? Agama dan sains ?

Akan memakan waktu panjang menjelaskan persoalan tersebut. Namun perlu ditekankan bahwa ide tentang alam semesta,penciptaan dan hukum-hukumnya, muncul kali pertama dari tradisi agama.  Namun dalam perjalanannya sains dan agama kemudian berpisah, bahkan berseberangan. Banyak contoh, Gilileo Galilei berkonflik dengan gereja. Charles Darwin menimbulkan persoalan serius di dunia Kristen.

Memasuki abad ke -20, sains berhasil menginvestigasi alam semesta secara luar biasa : melacak asal muasal alam raya,mengungkap asal usul waktu. Padahal pada mulanya ini adalah tema-tema yang diungkit para pemimpin agama, seperti penciptaan alam semesta, juga akhir. Problem- problem fundamental ini, yang mulanya bagian dari agama, lantas menjadi bagian sains. Keduanya lantas menjadi bagian konflik. Namun, dalam kurun 30 tahun terakhir, para saintis mulai membicarakan kembali tumpang tindih agama dan sains. Muncul dialog. Sebagian besar cukup konstruktif. Hanya,amat kompleks.

Apakah ada titik temu ?

Yang jelas,untuk mengikis kekompleksan masalah, perlu pengertian antara dua kutub. Agama harus merangkul sains. Agama perlu berupaya memahami dan mengakui temuan-temuan saintifik abad ke -20 dan ke -21. Bagaimana alam semesta bermula atau asal usul kehidupan, misalnya. Sejauh pemimpin agama mau memahami apa yang sains ingin capai, kekompleksan itu tidak dapat disingkirkan.

Agama seolah dalam posisi harus mengerti ?

Jangan keliru,agama memegang peran penting. Dalam konteks hubungan sains dan agama, lebih tepat jika agama berkontribusi memberi interpretasi tentang alam semesta, satu hal yang tak bisa dilakukan sains.

Maksud memberi interpretasi adalah memberi makna terhadap alam semesta dan keberadaan manusia,menjaga kehidupan manusia tetap pada tujuan awal. Semua agama, saya pikir, mencoba menjaga nilai-nilai kemanusiaan dengan memposisikan manusia pada tujuan penciptaannya.

Nah, sains member kontribusi dengan menyodorkan bukti-bukti bahwa benar alam semesta diciptakan dengan suatu tujuan. Riset saya selama ini memberi keyakinan soal itu. Alam semesta ternyata sangat jenius. Kita tak melihat bahwa alam semesta acak dan tidak koheren. Prinsip fundamental,fisika dan matematika,sangat jenius. Semuanya mereflesikan sebuah gambar besar, sebuah tujuan tertentu.

Saya tidak mengomentari ini berdasarkan satu ajaran agama tertentu. Saya mendasarkan seluruhnya pada hasil-hasil riset ilmiah saya. Lihat. Betapa indahnya seluruh alam semesta raya tertata secara bersamaan,betapa elegan dan jeniusnya. Anda lihat saya sangat terkesan terhadap sains. Dan lewat sainslah saya memahami bahwa kita memiliki tujuan disini.

Jadi Anda percaya Tuhan ?  Bukankah sains membuktikan keberadaan Tuhan ?

Bagi saya Tuhan adalah Sesuatu yang Sangat Abstrak, sesuatu yang Abadi (Timeless), sesuatu yang bisa saya  katakan sebagai Maha Besar (The Big). Ia adalah refleksi dari semua hukum fundamental di alam.   Namun, terus terang saya meyakini Tuhan bukan dalam pengertian agama-agama yang lazim. Tuhan buat saya adalah Diva dari ide-ide besar alam semesta. Ini istilah yang cukup kompleks dalam bahasa Inggris. Mungkin anda bakal sulit menerjemahkannya ke bahasa Indonesia.
Dalam buku saya,MIND OF GOD,saya jelaskan konsep saya tentang Tuhan. Namun bukan dalam pengertian Tuhannya orang Islam,Kristen atau Yahudi. Meski ada pula elemen dari tiga agama besar ini, termasuk elemen dari Budha dan Hindu.
Ini adalah konsep Tuhan yang boleh jadi tidak dipahami dan bahkan tidak menenteramkan bagi kebanyakan orang. Namun Dia dapat dipahami dengan mengkaji Keagungan-Nya lewat hukum fundamental alam.
  Singkatnya, semua agama pada akhirnya memberi pemahaman sangat mendalam tentang makna hidup ini. Sementara sains berkontribusi untuk menyodorkan fakta soal semesta, meneguhkan tentang makna hidup tersebut dan membuktikan bahwa ternyata memang benar.

Bisa Anda jelaskan, bagaimana alam semesta berakhir ?

Paling tidak ada empat kemungkinan. Pertama, alam semesta mengembang terus menerus, kian besar, menjadi sangat dingin, dan sulit bagi kehidupan untuk bertahan.  Kedua, alam semesta mengembang ke dalam ukuran maksimal,lantas kolaps dan terjadilah Big Crunch yang memicu kehancuran.

Ketiga, alam semesta terus mengembang. Dalam perjalanannya ia kehabisan energi. Termasuk peradaban di Bumi yang kian sulit mengeksploitasi sumber-sumber energy, sehingga kolaps.

Keempat,alam semesta mengembang kian cepat dari waktu ke waktu, dan ketika mencapai angka maksimumnya terjadilah Big Crunch. Ini adalah kemungkinan terbaru. Namun kita tak perlu khawatir. Dalam hitungan-hitungan kami, diperlukan waktu triliuanan tahun hingga semua terjadi.